Berita Industri

Mekanisasi Jadi Jawaban Krisis Tenaga Kerja Pertanian, DPR Minta Pemerintah Perkuat Alsintan

DPR meminta mekanisasi pertanian diperkuat karena buruh tanam dan pemanen makin sulit dicari. Kementan mencatat 86.023 unit alsintan tersalurkan sepanjang 2026.

23 Oktober 2026

Mekanisasi Jadi Jawaban Krisis Tenaga Kerja Pertanian, DPR Minta Pemerintah Perkuat Alsintan

Kekurangan tenaga kerja di sawah kini menjadi sorotan nasional. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Hanan A. Rozak, meminta pemerintah memperkuat mekanisasi pertanian sebagai jawaban atas makin sulitnya mencari buruh tanam dan pemanen. Pernyataan itu disampaikan dalam forum diskusi "Dua Tahun Transformasi Pertanian" di Jakarta dan diberitakan sejumlah media pada 22–23 Oktober 2026.

Buruh Tanam Makin Sulit Dicari

Menurut Hanan, petani semakin kesulitan mendapatkan tenaga tanam, terutama untuk menggarap sawah seluas 0,5 hektare hingga satu hektare atau lebih. Jika masih mengandalkan tenaga manual, kondisi ini berpotensi menghambat percepatan masa tanam. Karena itu, ia menilai bantuan mesin tanam (planter) dari Kementerian Pertanian sebagai langkah yang tepat.

Masalah serupa terjadi saat panen. Tenaga pemanen tradisional makin terbatas, sehingga sebagian petani harus mengantre giliran memakai mesin dan panen pun terlambat. Hanan juga menyinggung usia rata-rata petani yang terus meningkat, sehingga sektor pertanian semakin membutuhkan dukungan teknologi. Mekanisasi diharapkan sekaligus menarik minat generasi muda untuk terjun ke pertanian.

86.023 Unit Alsintan Disalurkan Sepanjang 2026

Di sisi pemerintah, Kementerian Pertanian mencatat dukungan berbagai jenis alat dan mesin pertanian (alsintan) sepanjang 2026 mencapai 86.023 unit, terutama untuk tahap prapanen. Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Andi Nur Alamsyah, menegaskan bahwa manfaat mekanisasi sangat bergantung pada kesesuaian jenis alat dengan kondisi lahan dan komoditas. Mekanisasi yang tepat disebut berpotensi meningkatkan efisiensi waktu kerja hingga 97,4 persen.

Bukan Hanya Soal Mesin

Hanan mengingatkan bahwa tantangan pertanian tidak hanya berkaitan dengan teknologi dan mekanisasi. Sebagian besar petani masih mengelola lahan sempit, sehingga skala ekonomi usaha tani perlu diperkuat pemerintah, termasuk lewat kelembagaan seperti kelompok tani. Dengan begitu, satu unit mesin dapat dimanfaatkan bersama untuk hamparan sawah yang lebih luas.

Apa Artinya bagi Petani dan Pelaku Usaha Tani?

Bagi kelompok tani, koperasi, maupun perusahaan perkebunan, pesan dari berita ini jelas: memilih mesin yang sesuai lahan adalah kunci. Untuk musim tanam, mesin tanam padi (rice transplanter) membantu mengatasi kurangnya buruh tanam. Untuk pengolahan tanah, traktor roda empat dengan tenaga yang pas mempercepat persiapan lahan. Saat panen, combine harvester memangkas waktu antre dan menekan kehilangan hasil.

Sebelum membeli, pastikan ukuran mesin cocok dengan luas dan akses lahan, kenali kondisi tanah (sawah berlumpur atau lahan kering), dan hitung kapasitas kerja per hari agar sesuai jadwal tanam. Tim DASS siap membantu mencocokkan unit Zoomlion, EAVision, dan VectorAgr dengan kebutuhan lahan Anda melalui WhatsApp.

← Kembali ke Berita & Artikel